Minggu, 25 Desember 2016

Solusi Pencegahan Penyakit Malaria di Papua



Sinergitas untuk Papua Lebih Sehat dari Resiko Penyakit Malaria


Gambar. 1 Jentik Nyamuk Anopeles Penyebab Penyakit Malaria

Papua merupakan daerah yang memiliki banyak masalah kesehatan. Salah satu masalah yang terbesar adalah kasus penyakit malaria. Malaria merupakan penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk betina jenis Anopheles sp. yang membawa parasit berupa Plasmodium sp. yang nantinya akan menyerang sel darah merah dalam tubuh manusia. Seseorang dinyatakan positif jika ditemukan plasmodium dalam darah melalui pengamatan mikrosopis. Gejala awal penderita penyakit malaria di antaranya adalah demam, menggigil, pusing, biasanya disertai kejang otot bagi orang dewasa serta diare bagi balita.
Dilansir pada halamanpapua.org bahwa pada tahun 2013 angka kematian tertinggi yang disebabkan oleh penyakit malaria berada di wilayah Papua dan Papua Barat. Misalnya saja pada daerah Timika, resiko infeksi malaria kerap terjadi pada anak yang baru lahir dan menjadi penyebab kematian tertinggi di daerah tersebut. Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, Prof. Tjandra Yoga Aditama membenarkan bahwa kasus malaria di wilayah Indonesia bagian timur seperti Papua, Papua barat, Maluku dan NTT beresiko tinggi dengan angka Annual Parasitical Index (API) sebesar lebih dari 20 per seribu.
Pada sumber lainnya Wilda dalam detik.com (2014) menuliskan bahwa sepanjang tahun 2013 dari 93,2 % kasus malaria terkonfirmasi yang terjadi di Indonesia hampir sekitar 81,09 % terjadi di Pulau Papua, di mana provinsi Papua menyumbang 42,65% dan Papua Barat sebesar 38,44 %. Mengapa kondisi tersebut dapat terjadi? Prof. Tjandra menyebutkan bahwa tinggi angka tersebut karena adanya keterbatasan sumber daya pemerintah. Dapat dikatakan SDM yang dimakusd adalah tenaga medis, pasokan obat-obatan serta dana operasional yang menunjang pemberantasan penyakit malaria di kawasan Indonesia bagian timur.
Arifah dalam Radioaustralia.net.au (2013) menuliskan bahwa penyakit yang sudah masuk kategori endemis ini menyeang berbagai lapisan masyarakat Papua. Mereka memaparkan bahwa sebenarnya penyakit malaria sudah sangat mem “budaya” akan tetapi kesadaran warga untuk berobat ke puskesmas masih rendah. Alasan utamanya adalah gejala-gejala malaria sama seperti gejala-gejala sakit biasa, seperti demam, pusing, dan mual-mual. Dengan kata lain warga hanya akan berobat ketika sudah menunjukkan gejala yang parah seperti tidak sadarkan diri, atau bagian limpa sudah membengkak. Selain itu minimnya akses pengobatan menuju puskesmas, jarak antar kabupaten yang sulit dijangkau menggunakan transportasi darat dan ketersediaan obat-obatan menjadi faktor penting dalam pengobatan penyakit malaria.
Malaria dapat dimusnahkan jika dapat memutus rantai hidupnya. Terdapat tiga aspek penunjang kehidupan penyakit malaria, yaitu agen (penyebab), pejamu (host), dan lingkungan (enviroment). Parasit seperti plasmodium berposisi sebagai agen di mana cara untuk memusnahkannya adalah dengan menggunakan vaksin atau obat-obatan yang diberikan kepada penderita untuk menghambat pertumbuhan parasit tersebut. Manusia dan nyamuk berada pada posisi pejamu, kekebalan sistem imun yang lemah karena kekurangan gizi menjadi faktor pemicu tingginya potensi terkena penyakit malaria sehingga pemberian gizi yang cukup menjadi sebuah solusi. Pemberantasan nyamuk dengan cara 3M (menutup penampungan air, menguras bak mandi, mengubur barang-barang bekas) atau pengasapan menjadi solusi untuk memberantas nyamuk. Sedangkan rekasaya lingkungan dengan menjaga kebersihan lingkungan, tidak membuang sampah sembarangan serta membudayakan hidup bersih menajdi kunci untuk menurunkan tingkat resiko terkena penyakit malaria
Upaya dalam melaksanakan solusi di atas perlu dilakukan secara sinergi antara pemerintah dan masyarakat. Pemerintah dapat bergerak dalam menyediakan obat-obatan, perbaikan akses, serta menambah tenaga dan fasilitas medis di daerah pedalaman bisa menjadi alternatif jangka panjang untuk mengurangi penyakit malaria di Papua. Sosialisasi kepada masyarakat mengenai cara-cara sederhana untuk mencegah penyebaran penyakit malaria seperti program 3M (Menguras, Mengubur, Menutup) dapat menjadi langkah awal yang baik. Masyarakat dapat berupaya untuk menciptakan lingkungan yang bersih, bebas genangan air dengan melaksanakan gotong royong untuk membersihkan selokan secara rutin, menggunakan obat nyamuk, serta menggunakan kelambu ketika tidur menanam tanaman pengusir nyamuk seperti serai atau lavender dapat menjadi langkah awal untuk mencegah resiko terkena penyakit malaria (ys).     

Daftar Pustaka
Anonim. “Meninjau Masalah Kesehatan di Papua.” halamanpapua.org. 17 Januari 2014. http://halamanpapua.org/umum/pengantar/meninjau-masalah-kesehatan-di-papua/ (diakses Desember 18, 2016).
Arifah, Iffah Nur. “Malaria Pembunuh Nomor Satu di Papua.” radioaustralia.net.au. 25 April 2013. http://www.radioaustralia.net.au/indonesian/radio/onairhighlights/malaria-pembunuh-nomor-satu-di-papua/1121524 (diakses Desember 18, 2016).
Wilda, Zanel Farha. “Inilah Alasan Angka Kasus Malaria di Indonesia Timur Masih Tinggi.” detik.com. 28 Februari 2014. http://health.detik.com/read/2014/02/28/180434/2511903/763/inilah-alasan-angka-kasus-malaria-di-indonesia-timur-masih-tinggi (diakses Desember 18, 2016).


Unknown

About Unknown

Author Description here.. Nulla sagittis convallis. Curabitur consequat. Quisque metus enim, venenatis fermentum, mollis in, porta et, nibh. Duis vulputate elit in elit. Mauris dictum libero id justo.

Subscribe to this Blog via Email :

Berkomentarlah dengan baik dan bijak :)