Sinergitas untuk Papua Lebih Sehat dari Resiko Penyakit Malaria
Gambar. 1 Jentik Nyamuk Anopeles Penyebab Penyakit Malaria
Papua merupakan daerah yang memiliki banyak masalah
kesehatan. Salah satu masalah yang terbesar adalah kasus penyakit malaria.
Malaria merupakan penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk betina jenis Anopheles sp. yang membawa parasit
berupa Plasmodium sp. yang nantinya
akan menyerang sel darah merah dalam tubuh manusia. Seseorang dinyatakan
positif jika ditemukan plasmodium dalam darah melalui pengamatan mikrosopis.
Gejala awal penderita penyakit malaria di antaranya adalah demam, menggigil,
pusing, biasanya disertai kejang otot bagi orang dewasa serta diare bagi
balita.
Dilansir pada halamanpapua.org
bahwa pada tahun 2013 angka kematian tertinggi yang disebabkan oleh penyakit
malaria berada di wilayah Papua dan Papua Barat. Misalnya saja pada daerah
Timika, resiko infeksi malaria kerap terjadi pada anak yang baru lahir dan
menjadi penyebab kematian tertinggi di daerah tersebut. Dirjen Pengendalian
Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, Prof. Tjandra Yoga
Aditama membenarkan bahwa kasus malaria di wilayah Indonesia bagian timur
seperti Papua, Papua barat, Maluku dan NTT beresiko tinggi dengan angka Annual Parasitical Index (API) sebesar
lebih dari 20 per seribu.
Pada sumber lainnya Wilda dalam detik.com (2014) menuliskan bahwa sepanjang tahun 2013 dari 93,2 %
kasus malaria terkonfirmasi yang terjadi di Indonesia hampir sekitar 81,09 %
terjadi di Pulau Papua, di mana provinsi Papua menyumbang 42,65% dan Papua
Barat sebesar 38,44 %. Mengapa kondisi tersebut dapat terjadi? Prof. Tjandra
menyebutkan bahwa tinggi angka tersebut karena adanya keterbatasan sumber daya
pemerintah. Dapat dikatakan SDM yang dimakusd adalah tenaga medis, pasokan
obat-obatan serta dana operasional yang menunjang pemberantasan penyakit
malaria di kawasan Indonesia bagian timur.
Arifah dalam Radioaustralia.net.au
(2013) menuliskan bahwa penyakit yang sudah masuk kategori endemis ini menyeang
berbagai lapisan masyarakat Papua. Mereka memaparkan bahwa sebenarnya penyakit
malaria sudah sangat mem “budaya” akan tetapi kesadaran warga untuk berobat ke
puskesmas masih rendah. Alasan utamanya adalah gejala-gejala malaria sama
seperti gejala-gejala sakit biasa, seperti demam, pusing, dan mual-mual. Dengan
kata lain warga hanya akan berobat ketika sudah menunjukkan gejala yang parah
seperti tidak sadarkan diri, atau bagian limpa sudah membengkak. Selain itu
minimnya akses pengobatan menuju puskesmas, jarak antar kabupaten yang sulit
dijangkau menggunakan transportasi darat dan ketersediaan obat-obatan menjadi
faktor penting dalam pengobatan penyakit malaria.
Malaria dapat dimusnahkan jika dapat memutus rantai
hidupnya. Terdapat tiga aspek penunjang kehidupan penyakit malaria, yaitu agen
(penyebab), pejamu (host), dan lingkungan (enviroment). Parasit seperti
plasmodium berposisi sebagai agen di mana cara untuk memusnahkannya adalah
dengan menggunakan vaksin atau obat-obatan yang diberikan kepada penderita
untuk menghambat pertumbuhan parasit tersebut. Manusia dan nyamuk berada pada
posisi pejamu, kekebalan sistem imun yang lemah karena kekurangan gizi menjadi
faktor pemicu tingginya potensi terkena penyakit malaria sehingga pemberian
gizi yang cukup menjadi sebuah solusi. Pemberantasan nyamuk dengan cara 3M
(menutup penampungan air, menguras bak mandi, mengubur barang-barang bekas)
atau pengasapan menjadi solusi untuk memberantas nyamuk. Sedangkan rekasaya
lingkungan dengan menjaga kebersihan lingkungan, tidak membuang sampah
sembarangan serta membudayakan hidup bersih menajdi kunci untuk menurunkan
tingkat resiko terkena penyakit malaria
Upaya dalam melaksanakan solusi di atas perlu dilakukan
secara sinergi antara pemerintah dan masyarakat. Pemerintah dapat bergerak
dalam menyediakan obat-obatan, perbaikan akses, serta menambah tenaga dan
fasilitas medis di daerah pedalaman bisa menjadi alternatif jangka panjang
untuk mengurangi penyakit malaria di Papua. Sosialisasi kepada masyarakat
mengenai cara-cara sederhana untuk mencegah penyebaran penyakit malaria seperti
program 3M (Menguras, Mengubur, Menutup) dapat menjadi langkah awal yang baik.
Masyarakat dapat berupaya untuk menciptakan lingkungan yang bersih, bebas
genangan air dengan melaksanakan gotong royong untuk membersihkan selokan
secara rutin, menggunakan obat nyamuk, serta menggunakan kelambu ketika tidur
menanam tanaman pengusir nyamuk seperti serai atau lavender dapat menjadi
langkah awal untuk mencegah resiko terkena penyakit malaria (ys).
Daftar Pustaka
Anonim. “Meninjau Masalah Kesehatan di Papua.” halamanpapua.org.
17 Januari 2014.
http://halamanpapua.org/umum/pengantar/meninjau-masalah-kesehatan-di-papua/
(diakses Desember 18, 2016).
Arifah, Iffah Nur. “Malaria Pembunuh Nomor Satu di Papua.” radioaustralia.net.au.
25 April 2013.
http://www.radioaustralia.net.au/indonesian/radio/onairhighlights/malaria-pembunuh-nomor-satu-di-papua/1121524
(diakses Desember 18, 2016).
Wilda, Zanel Farha. “Inilah Alasan Angka Kasus Malaria di Indonesia
Timur Masih Tinggi.” detik.com. 28 Februari 2014.
http://health.detik.com/read/2014/02/28/180434/2511903/763/inilah-alasan-angka-kasus-malaria-di-indonesia-timur-masih-tinggi
(diakses Desember 18, 2016).
Berkomentarlah dengan baik dan bijak :)