Ancaman Lingkungan dari Kebun Kelapa Sawit
Gambar 1. Perkebunan Kelapa Sawit
Indonesia merupakan
salah satu negara dengan sektor pendapatan negara yang berasal dari aspek
perkebunan. Komoditas perkebunan kelapa sawit adalah salah satunya. Tanaman
perkebunan ini banyak dibudidayakan karena dapat menghasilkan produk dasar
berupa CPO (Crude Palm Oil) dan
produk turunannya untuk menghasilkan minyak goreng. Menurut data Direktorat
Jenderal perkebunan Indonesia (2014) menyebutkan bahwa pada tahun 2013 total
ekspor perkebunan mencapai US$29,476 milyar atau setara dengan Rp353,713
triliun (asumsi 1 US$=Rp12.000,00). Angka tersebut menunjukkan bahwa perkebunan
kelapa sawit sangat menguntungkan dalam segi dunia bisnis. Berikut adalah tabel
produksi (ton) kelapa sawit pada tahun 2010-2015.
Tabel. 1 Jumlah Produksi CPO Berdasarkan
Kepemilikan Kebun
|
Tahun
|
Produksi CPO (Ton)
|
Jumlah
|
||
|
PR
|
PBN
|
PBS
|
||
|
2010
|
8.458.709
|
1.890.503
|
11.608.907
|
21.958.120
|
|
2011
|
8.797.924
|
2.045.562
|
12.253.055
|
23.096.541
|
|
2012
|
9.197.728
|
2.133.007
|
14.684.783
|
26.015.518
|
|
2013
|
10.010.728
|
2.144.651
|
15.626.625
|
27.782.004
|
|
2014*
|
10.683.286
|
2.156.294
|
16.504.899
|
29.344.479
|
|
2015**
|
11.312.640
|
2.201.634
|
17.434.658
|
30.948.931
|
(Sumber: Drektorat jenderal Perkebunan, 2014)
Ket: PR =
Perkebunan Rakyat; PBN: Perkebunan Negara; PBS: Perkebunan Swasta
*) = Angka Sementara; **) = Angka Estimasi
Jika dilihat dari
kuantitas produksi, pada setiap tahunnya mengalami penambahan jumlah produksi
yang cukup stabil. Kondisi tersebut yang menunjukkan bahwa komoditas perkebunan
sangat menguntungkan dalam dunia bisnis untuk mendapatkan keuntungan finansial.
Direktorat Jenderal
Perkebunan Indonesia (2014) mengestimasikan pada tahun 2015 luas perkebunan
kelapa sawit di Indonesia mencapai 11.444.808 Ha atau sekitar 114.448,08 km2.
Berikut adalah tabel luas area perkebunan kelapa sawit pada tahun 2010 – 2015.
Tabel. 2 Luas Area Kebun Kelapa
Sawit pada Tahun 2010-2014
|
Tahun
|
Luas Area Kebun
(Ha)
|
Jumlah
|
||
|
PR
|
PBN
|
PBS
|
||
|
2010
|
3.387.257
|
631.520
|
4.366.617
|
8.385.394
|
|
2011
|
3.752.480
|
678.378
|
4.561.966
|
8.992.824
|
|
2012
|
4.137.620
|
683.227
|
4.751.868
|
9.572.715
|
|
2013
|
4.356.087
|
727.767
|
5.381.166
|
10.465.020
|
|
2014*
|
4.551.854
|
748.272
|
5.656.105
|
10.956.231
|
|
2015**
|
4.739.986
|
769.357
|
5.935.465
|
11.444.808
|
(Sumber: Drektorat jenderal Perkebunan, 2014)
Ket: PR = Perkebunan
Rakyat; PBN: Perkebunan Negara; PBS: Perkebunan Swasta
*) = Angka Sementara; **) = Angka Estimasi
Ironisnya dibalik
keuntungan finansial dari perkebunan kelapa sawit ternyata menimbulkan ancaman
lingkungan yang terjadi dalam jangka panjang. Diantaranya adalah krisis air
bersih dan pencemaran tanah. Berikut adalah penjelasannya:
1.
Krisis Air Bersih
Setiap tanaman perkebunan memerlukan air sebagai sumber
energi dalam proses fotosintesis. Peran air sangatlah esensial dalam proses
tersebut. Jika kekurangan air maka produksi buah kelapa sawit akan menurun
kualitasnya ditandai dengan berat buah yang kecil dan jika berlebihan maka buah
kelapa sawit akan mudah rontok dari tandannya.
Garbens – Leenes et al. dalam Palm Oil Agribusiness
Strategic Policy Institute/PASPI (2016) menuliskan bahwa kebutuhan air tanaman
kepala sawit untuk menghasilkan Satu Giga Joule Bioenergi adalah sebesar 75 m3
air. Berdasarkan penelitian tersebut jika dikalkulasikan dengan total luas area
perkebunan kelapa sawit di Indonesia yang sudah hampir mencapai angka
11.444.808 Ha dan jumlah total produksi CPO sebesar 6.189.786 Ton pada tahun 2015 maka membutuhkan air sebanyak 1,9 x 1010 m3 (asumsi 1 ton
minyak = 41,868 giga joule = 3.140,1 m3 air). Kebutuhan tersebut tidak
menutup kemungkinan wilayah di Indonesia terutama pada daerah yang banyak
ditanami perkebunan kelapa sawit yaitu Riau sekitar 1.384.076 Ha dengan jumlah
produksi CPO sebesar 6.646.997 ton pada 2013 akan mengalami krisi air bersih
beberapa tahun kemudian. Pada tahun 2013 tanpa kita sadari provinsi Riau
memberikan sekitar 2.04 x 1010 m3 air hanya untuk
perkebunan kelapa sawit. Memang secara pemasaran dapat diperoleh, jika harga 1
ton CPO dilansir market.bisnis.com (2016) berkisar US$626,11 atau Rp7.513.320,00
(asumsi 1 US$=Rp12.000,00) maka provinsi
Riau memperoleh keuntungan sebesar 6.646.997 ton CPO x Rp7.513.320,00 = 49.941.015.500.000,00 atau 49,9 triliun.
2.
Pencemaran Tanah
Perkebunan kelapa sawit mengalami masa tumbuh mencapai
lebih dari 25 tahun dengan produktifitas optimum berada di umur 19-24 tahun
(Chan, K. W dalam PASPI, 2016). Selama puluhan tahun perkebunan kelapa sawit
akan menggunakan pupuk kimia seperti UREA, NPK, dan pupuk lainnya untuk
membantu pertumbuhan dan peningkatan produksi kelapa sawit. Akan tetapi
penggunaan pupuk kimia dapat mencemari komposisi kimia tanah dan merusak
struktur tanah karena adanya kelebihan nutrisi tanah yang dapat menyebabkan
ketidak seimbangan kualitas tanah. Kondisi tersebut akan berdampak pada
penurunan daya dukung tanah seperti kesuburan dan kemampuan menyuplai nutrisi
untuk tumbuhan selain kelapa sawit. Kondisi tesebut dapat memang dapat
diperbaiki namun membutuhkan waktu yang sangat lama dan biaya cukup besar.
Meskipun keuntungan
ekonomis dari perkebunan kelapa sawit yang mencapai angka trilunan rupiah.
Keuntungan tersebut bukanlah keuntungan bersih yang diperoleh oleh negara,
industri atau masyarakat. Keuntungan tersebut dipastikan digunakan untuk
memenuhi kebutuhan perawatan dan kebutuhan lainnya. Jika krisi air bersih
terjadi, dipastikan diperlukan biaya yang besar untuk memasang instalasi air
bersih serta pembayaran air bersih yang mencapai puluhan ribu untuk 1 meter
kubik air. Jika diperkotaan maka harganya tidak akan sampai segitu, tapi kalau
di pedalaman pasti bisa lebih mahal yag notabennya perkebunan kelapa sawit
banyak dilakukan di area pedesaan baik oleh kalangan masyarakat, pihak swasta
maupun negara. Salah satu solusinya adalah dengan membatasi luas area
perkebunan sawit dan beralih menggunakan pupuk organik agar kualitas tanah dan
kuantitas air dapat terjaga selamanya. (ys)
Daftar Pustaka
DIKJENPERKEBUNAN. STATISTIK PERKEBUNAN
INDONESIA 2013-2015 KELAPA SAWIT. Jakarta: Direktorak Jenderal perkebunan,
2014.
Hafiyyan. Produksi Pulih, Harga CPO 2016
Diprediksi US$647 Per Ton. 22 Agustus 2016.
http://market.bisnis.com/read/20160822/94/577340/produksi-pulih-harga-cpo-2016-diprediksi-us647-per-ton-
(diakses Oktober 25, 2016).
PASPI. mitosvsfakta Industri Minyak
Sawit Indonesia dalam Isu Sosial, Ekonomi dan Lingkungan Global. Bogor:
Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute, 2016.
