Minggu, 25 Desember 2016

    Kelapa Sawit, Pengancam Kelestarian Lingkungan

    Ancaman Lingkungan dari Kebun Kelapa Sawit


    Gambar 1. Perkebunan Kelapa Sawit 

    Indonesia merupakan salah satu negara dengan sektor pendapatan negara yang berasal dari aspek perkebunan. Komoditas perkebunan kelapa sawit adalah salah satunya. Tanaman perkebunan ini banyak dibudidayakan karena dapat menghasilkan produk dasar berupa CPO (Crude Palm Oil) dan produk turunannya untuk menghasilkan minyak goreng. Menurut data Direktorat Jenderal perkebunan Indonesia (2014) menyebutkan bahwa pada tahun 2013 total ekspor perkebunan mencapai US$29,476 milyar atau setara dengan Rp353,713 triliun (asumsi 1 US$=Rp12.000,00). Angka tersebut menunjukkan bahwa perkebunan kelapa sawit sangat menguntungkan dalam segi dunia bisnis. Berikut adalah tabel produksi (ton) kelapa sawit pada tahun 2010-2015.

    Tabel. 1 Jumlah Produksi CPO Berdasarkan Kepemilikan Kebun
    Tahun
    Produksi CPO (Ton)
    Jumlah
    PR
    PBN
    PBS
    2010
    8.458.709
    1.890.503
    11.608.907
    21.958.120
    2011
    8.797.924
    2.045.562
    12.253.055
    23.096.541
    2012
    9.197.728
    2.133.007
    14.684.783
    26.015.518
    2013
    10.010.728
    2.144.651
    15.626.625
    27.782.004
    2014*
    10.683.286
    2.156.294
    16.504.899
    29.344.479
    2015**
    11.312.640
    2.201.634
    17.434.658
    30.948.931
    (Sumber: Drektorat jenderal Perkebunan, 2014)
    Ket:        PR = Perkebunan Rakyat; PBN: Perkebunan Negara; PBS: Perkebunan Swasta
                    *)  = Angka Sementara; **) = Angka Estimasi

    Jika dilihat dari kuantitas produksi, pada setiap tahunnya mengalami penambahan jumlah produksi yang cukup stabil. Kondisi tersebut yang menunjukkan bahwa komoditas perkebunan sangat menguntungkan dalam dunia bisnis untuk mendapatkan keuntungan finansial.
    Direktorat Jenderal Perkebunan Indonesia (2014) mengestimasikan pada tahun 2015 luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia mencapai 11.444.808 Ha atau sekitar 114.448,08 km2. Berikut adalah tabel luas area perkebunan kelapa sawit pada tahun 2010 – 2015.

    Tabel. 2 Luas Area Kebun Kelapa Sawit pada Tahun 2010-2014
    Tahun
    Luas Area Kebun (Ha)
    Jumlah
    PR
    PBN
    PBS
    2010
    3.387.257
    631.520
    4.366.617
    8.385.394
    2011
    3.752.480
    678.378
    4.561.966
    8.992.824
    2012
    4.137.620
    683.227
    4.751.868
    9.572.715
    2013
    4.356.087
    727.767
    5.381.166
    10.465.020
    2014*
    4.551.854
    748.272
    5.656.105
    10.956.231
    2015**
    4.739.986
    769.357
    5.935.465
    11.444.808
    (Sumber: Drektorat jenderal Perkebunan, 2014)
    Ket:        PR = Perkebunan Rakyat; PBN: Perkebunan Negara; PBS: Perkebunan Swasta
                    *)  = Angka Sementara; **) = Angka Estimasi

    Ironisnya dibalik keuntungan finansial dari perkebunan kelapa sawit ternyata menimbulkan ancaman lingkungan yang terjadi dalam jangka panjang. Diantaranya adalah krisis air bersih dan pencemaran tanah. Berikut adalah penjelasannya:

    1.      Krisis Air Bersih
    Setiap tanaman perkebunan memerlukan air sebagai sumber energi dalam proses fotosintesis. Peran air sangatlah esensial dalam proses tersebut. Jika kekurangan air maka produksi buah kelapa sawit akan menurun kualitasnya ditandai dengan berat buah yang kecil dan jika berlebihan maka buah kelapa sawit akan mudah rontok dari tandannya.

    Garbens – Leenes et al. dalam Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute/PASPI (2016) menuliskan bahwa kebutuhan air tanaman kepala sawit untuk menghasilkan Satu Giga Joule Bioenergi adalah sebesar 75 m3 air. Berdasarkan penelitian tersebut jika dikalkulasikan dengan total luas area perkebunan kelapa sawit di Indonesia yang sudah hampir mencapai angka 11.444.808 Ha dan jumlah total produksi CPO sebesar 6.189.786 Ton pada tahun 2015 maka membutuhkan air sebanyak 1,9 x 1010 m3 (asumsi 1 ton minyak = 41,868 giga joule = 3.140,1 m3 air). Kebutuhan tersebut tidak menutup kemungkinan wilayah di Indonesia terutama pada daerah yang banyak ditanami perkebunan kelapa sawit yaitu Riau sekitar 1.384.076 Ha dengan jumlah produksi CPO sebesar 6.646.997 ton pada 2013 akan mengalami krisi air bersih beberapa tahun kemudian. Pada tahun 2013 tanpa kita sadari provinsi Riau memberikan sekitar 2.04 x 1010 m3 air hanya untuk perkebunan kelapa sawit. Memang secara pemasaran dapat diperoleh, jika harga 1 ton CPO dilansir market.bisnis.com (2016) berkisar US$626,11 atau Rp7.513.320,00 (asumsi 1 US$=Rp12.000,00)  maka provinsi Riau memperoleh keuntungan sebesar 6.646.997 ton CPO x Rp7.513.320,00 = 49.941.015.500.000,00 atau 49,9 triliun.     

    2.      Pencemaran Tanah
    Perkebunan kelapa sawit mengalami masa tumbuh mencapai lebih dari 25 tahun dengan produktifitas optimum berada di umur 19-24 tahun (Chan, K. W dalam PASPI, 2016). Selama puluhan tahun perkebunan kelapa sawit akan menggunakan pupuk kimia seperti UREA, NPK, dan pupuk lainnya untuk membantu pertumbuhan dan peningkatan produksi kelapa sawit. Akan tetapi penggunaan pupuk kimia dapat mencemari komposisi kimia tanah dan merusak struktur tanah karena adanya kelebihan nutrisi tanah yang dapat menyebabkan ketidak seimbangan kualitas tanah. Kondisi tersebut akan berdampak pada penurunan daya dukung tanah seperti kesuburan dan kemampuan menyuplai nutrisi untuk tumbuhan selain kelapa sawit. Kondisi tesebut dapat memang dapat diperbaiki namun membutuhkan waktu yang sangat lama dan biaya cukup besar.

    Meskipun keuntungan ekonomis dari perkebunan kelapa sawit yang mencapai angka trilunan rupiah. Keuntungan tersebut bukanlah keuntungan bersih yang diperoleh oleh negara, industri atau masyarakat. Keuntungan tersebut dipastikan digunakan untuk memenuhi kebutuhan perawatan dan kebutuhan lainnya. Jika krisi air bersih terjadi, dipastikan diperlukan biaya yang besar untuk memasang instalasi air bersih serta pembayaran air bersih yang mencapai puluhan ribu untuk 1 meter kubik air. Jika diperkotaan maka harganya tidak akan sampai segitu, tapi kalau di pedalaman pasti bisa lebih mahal yag notabennya perkebunan kelapa sawit banyak dilakukan di area pedesaan baik oleh kalangan masyarakat, pihak swasta maupun negara. Salah satu solusinya adalah dengan membatasi luas area perkebunan sawit dan beralih menggunakan pupuk organik agar kualitas tanah dan kuantitas air dapat terjaga selamanya. (ys)

     Daftar Pustaka

    DIKJENPERKEBUNAN. STATISTIK PERKEBUNAN INDONESIA 2013-2015 KELAPA SAWIT. Jakarta: Direktorak Jenderal perkebunan, 2014.
    Hafiyyan. Produksi Pulih, Harga CPO 2016 Diprediksi US$647 Per Ton. 22 Agustus 2016. http://market.bisnis.com/read/20160822/94/577340/produksi-pulih-harga-cpo-2016-diprediksi-us647-per-ton- (diakses Oktober 25, 2016).
    PASPI. mitosvsfakta Industri Minyak Sawit Indonesia dalam Isu Sosial, Ekonomi dan Lingkungan Global. Bogor: Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute, 2016.


    Solusi Pencegahan Penyakit Malaria di Papua



    Sinergitas untuk Papua Lebih Sehat dari Resiko Penyakit Malaria


    Gambar. 1 Jentik Nyamuk Anopeles Penyebab Penyakit Malaria

    Papua merupakan daerah yang memiliki banyak masalah kesehatan. Salah satu masalah yang terbesar adalah kasus penyakit malaria. Malaria merupakan penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk betina jenis Anopheles sp. yang membawa parasit berupa Plasmodium sp. yang nantinya akan menyerang sel darah merah dalam tubuh manusia. Seseorang dinyatakan positif jika ditemukan plasmodium dalam darah melalui pengamatan mikrosopis. Gejala awal penderita penyakit malaria di antaranya adalah demam, menggigil, pusing, biasanya disertai kejang otot bagi orang dewasa serta diare bagi balita.
    Dilansir pada halamanpapua.org bahwa pada tahun 2013 angka kematian tertinggi yang disebabkan oleh penyakit malaria berada di wilayah Papua dan Papua Barat. Misalnya saja pada daerah Timika, resiko infeksi malaria kerap terjadi pada anak yang baru lahir dan menjadi penyebab kematian tertinggi di daerah tersebut. Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, Prof. Tjandra Yoga Aditama membenarkan bahwa kasus malaria di wilayah Indonesia bagian timur seperti Papua, Papua barat, Maluku dan NTT beresiko tinggi dengan angka Annual Parasitical Index (API) sebesar lebih dari 20 per seribu.
    Pada sumber lainnya Wilda dalam detik.com (2014) menuliskan bahwa sepanjang tahun 2013 dari 93,2 % kasus malaria terkonfirmasi yang terjadi di Indonesia hampir sekitar 81,09 % terjadi di Pulau Papua, di mana provinsi Papua menyumbang 42,65% dan Papua Barat sebesar 38,44 %. Mengapa kondisi tersebut dapat terjadi? Prof. Tjandra menyebutkan bahwa tinggi angka tersebut karena adanya keterbatasan sumber daya pemerintah. Dapat dikatakan SDM yang dimakusd adalah tenaga medis, pasokan obat-obatan serta dana operasional yang menunjang pemberantasan penyakit malaria di kawasan Indonesia bagian timur.
    Arifah dalam Radioaustralia.net.au (2013) menuliskan bahwa penyakit yang sudah masuk kategori endemis ini menyeang berbagai lapisan masyarakat Papua. Mereka memaparkan bahwa sebenarnya penyakit malaria sudah sangat mem “budaya” akan tetapi kesadaran warga untuk berobat ke puskesmas masih rendah. Alasan utamanya adalah gejala-gejala malaria sama seperti gejala-gejala sakit biasa, seperti demam, pusing, dan mual-mual. Dengan kata lain warga hanya akan berobat ketika sudah menunjukkan gejala yang parah seperti tidak sadarkan diri, atau bagian limpa sudah membengkak. Selain itu minimnya akses pengobatan menuju puskesmas, jarak antar kabupaten yang sulit dijangkau menggunakan transportasi darat dan ketersediaan obat-obatan menjadi faktor penting dalam pengobatan penyakit malaria.
    Malaria dapat dimusnahkan jika dapat memutus rantai hidupnya. Terdapat tiga aspek penunjang kehidupan penyakit malaria, yaitu agen (penyebab), pejamu (host), dan lingkungan (enviroment). Parasit seperti plasmodium berposisi sebagai agen di mana cara untuk memusnahkannya adalah dengan menggunakan vaksin atau obat-obatan yang diberikan kepada penderita untuk menghambat pertumbuhan parasit tersebut. Manusia dan nyamuk berada pada posisi pejamu, kekebalan sistem imun yang lemah karena kekurangan gizi menjadi faktor pemicu tingginya potensi terkena penyakit malaria sehingga pemberian gizi yang cukup menjadi sebuah solusi. Pemberantasan nyamuk dengan cara 3M (menutup penampungan air, menguras bak mandi, mengubur barang-barang bekas) atau pengasapan menjadi solusi untuk memberantas nyamuk. Sedangkan rekasaya lingkungan dengan menjaga kebersihan lingkungan, tidak membuang sampah sembarangan serta membudayakan hidup bersih menajdi kunci untuk menurunkan tingkat resiko terkena penyakit malaria
    Upaya dalam melaksanakan solusi di atas perlu dilakukan secara sinergi antara pemerintah dan masyarakat. Pemerintah dapat bergerak dalam menyediakan obat-obatan, perbaikan akses, serta menambah tenaga dan fasilitas medis di daerah pedalaman bisa menjadi alternatif jangka panjang untuk mengurangi penyakit malaria di Papua. Sosialisasi kepada masyarakat mengenai cara-cara sederhana untuk mencegah penyebaran penyakit malaria seperti program 3M (Menguras, Mengubur, Menutup) dapat menjadi langkah awal yang baik. Masyarakat dapat berupaya untuk menciptakan lingkungan yang bersih, bebas genangan air dengan melaksanakan gotong royong untuk membersihkan selokan secara rutin, menggunakan obat nyamuk, serta menggunakan kelambu ketika tidur menanam tanaman pengusir nyamuk seperti serai atau lavender dapat menjadi langkah awal untuk mencegah resiko terkena penyakit malaria (ys).     

    Daftar Pustaka
    Anonim. “Meninjau Masalah Kesehatan di Papua.” halamanpapua.org. 17 Januari 2014. http://halamanpapua.org/umum/pengantar/meninjau-masalah-kesehatan-di-papua/ (diakses Desember 18, 2016).
    Arifah, Iffah Nur. “Malaria Pembunuh Nomor Satu di Papua.” radioaustralia.net.au. 25 April 2013. http://www.radioaustralia.net.au/indonesian/radio/onairhighlights/malaria-pembunuh-nomor-satu-di-papua/1121524 (diakses Desember 18, 2016).
    Wilda, Zanel Farha. “Inilah Alasan Angka Kasus Malaria di Indonesia Timur Masih Tinggi.” detik.com. 28 Februari 2014. http://health.detik.com/read/2014/02/28/180434/2511903/763/inilah-alasan-angka-kasus-malaria-di-indonesia-timur-masih-tinggi (diakses Desember 18, 2016).


    Sabtu, 13 September 2014

    Beasiswa S1 "Ayo Sikat"

    Cara Mendapatkan Beasiswa S1


    Biaya kuliah memang mahal, tetapi tergantung pada jurusannya juga. Pemerintah telah menerapkan sistem UKT (Uang Kuliah Tunggal) bagi seluruh PTN di Indonesia. Alhasil masyarakat yang memiliki keterbatasan ekonomi mendapat keringanan dalam biaya perkuliahan. Tapi alangkah bagus jika kuliah kita menddapatkan biaya dari beasiswa. Banyak jenis beasiswa yang ada di Indonesia, baik dari pihak pemerintah seperti Bidikmisi. Maupun dari pihak swasta, yayasan dan lain sebagainya. Utuk meraih program beasiswa pastinya tidaklah mudah. Berikut adalah tips agar kit dapat meraih program beasiswa.


    1.Tekad kuat
    Segala sesuatu yang ingin kita lakukan pasti dimulai dari niat. Karena itu, kita harus memiliki tekad yang kuat bahwa kita pasti BISA KULIAH. Apalagi kalau kita berasal dari keluarga yang tidak mampu, dengan beasiswa pasti akan dapat meringankan beban perekonomian keluarga.


    2.Berusaha
    belajar keras, tekun, pantang menyerah. Ketiga-tiganya harus kita miliki dan diperjuangkan. Pepatah Arab mengatakan “Barangsiapa yang bersungguh-sungguh pasti akan dapat”.


    3.Beribadah
    Ibadah sangat penting, bagaikan kita makan dengan nasi putih saja tanpa lauk pauk pasti hambar rasanya bukan, seperti itulah jika kita usaha tanpa ibadah. Segala usaha yang kita lakukan hanya Tuhan lah Yang Maha Menentukan. Untuk kita yang beragama Muslim, perbanyaklah salat sunah duha, tahajud, dan hajat (tanpa meninggalkan salat wajib).


    4.Rajin Mencari Informasi
    Selain belajar dengan tekun, kita juga harus sering membaca program beasiswa baik di internet, media masa, ataupun media elektronik lainnya. Periksa juga kebenaran penyalur beasiswa, jangan sampai nanti kena tipu.


    5.Menjaga Persaudaaan
    Teman! Ingat dalam keseharian hidup kita banyak kita luangkan untuk teman. Pilihlah teman yang memilki mimpi yang sama. Boleh berteman dengan siapa saja, tapi kita harus membatasi pergaulan.


    6.Bermimpi
    Mimpi membuat kita untuk berkhayal. Mau jadi dokter, profesor, guru, enginer atau lainnya. Mimpi adalah kunci untuk kita menentukan apa yang harus kita lakukan kedepannya. Perbanyaklah impianmu dan jangan lupa untuk merealisasikannya hingga menjadi kenyataan.


    7. Bersikap Jujur, dan Menghormati Ayah, Ibu , dan Guru
    Jujur sifat yang mulai luntur dalam diri kita. Padahal jujur ini adalah kunci dari kebehasilan. Pepatah mengatakan “jujur adalah mata uang yang dapat dipakai dimana-mana”. Dalam kehidupan sebagai pelajar masih ingatkah dengan ikrar Tri Prastya Pelajar butir kedua, “Pelajar harus sopan da jujur dalam segala tindakan dan perbuatan”. Walaupun disaat terdesakmial dalam menghadapi ujian, ulangan dan lainnya, Allah SWT dan guru akan lebih senang kepada kita kalau kita melakukan sesuatu dengan jujur walaupun jelek nilanya. Menghormati kedua Orang Tua adalah kewajiban semua anak. “Ridho Allah, idho Orang Tua”. Tidak akan berhasil anak yang durhaka pada orang tuannya.